Mr Ponsi

selamat datang,terimakasih sudah mampir di blog saya,Apapun yg terjadi dalm hidupku ini ,tak pernah ku ragukan kasihmu Tuhan # Ucapan syukur atas terkabulnya doa melalui novena tiga salam maria.

Senin, 08 Februari 2016

Sepenggal cerita Anak Rantau





sahabat
Enam tahun yang lalu, saya berpamitan kepada ayah ,ibu ,dan keluarga besarku di kampung halamanku tepatnya  di  kampung pedak. Aku  ingin mengadu nasib di Jakarta. Sebagai seorang anak cowo yang paling tua dikelurgaku, saya ingin bertekad agar aku  ulet dan sabar untuk mencari nafkah buat keluarga,cita-citanya sih biar bisa memperoleh kehidupan yang lebih baik.,. Paling tidak saya bisa mengurangi beban  biaya hidup keluargaku,,apalagi keadaan ekonomi keluargaku saat itu sangat memprihatinkan,,Tekad  Mencari rupiah di kota tentu saja tidak segampang mengais rizki di desa.

Di kampungku banyak sekali orang yang merantau ke kota. Tak cukup satu dua orang saja, karena hampir tiap tahun, semakin bertambah jumlah orang yang meninggalkan kampung. Mereka yang terbilang lumayan sukses hidup di kota, biasanya mengajak anggota keluarganya yang lain. Jika mau ikut berkerja di kota, mereka diiming-imingi gaji yang besar.

Apakah semua orang yang merantau ke kota besar macam Jakarta semuanya sukses? Ternyata tidak. Banyak juga mereka yang justru hidup menderita. Bila mencari kerja ke kota sementara tidak memiliki bekal kemampuan yang cukup, seseorang hanya akan menjadi buruh bangunan atau tukang sapu jalanan. Hanya sedikit orang yang berhasil mendapatkan kerja yang layak meskipun ia tidak memiliki ketrampilan tertentu.

Ada seorang dari kampungku yang sukses di Jakarta, tetapi ada pula yang hidupnya pas-pasan.seperti keluarga penulis ini..hehehhe.Aku pernah mendengar cerita betapa menyedihkanya mereka yang hidup dengan cara seperti itu. Jangankan untuk membayar kontrakan rumah, untuk makan sehari-hari pun mereka tak sanggup.

Mendengar cerita-cerita memilukan seperti itu membuat hati ini iba. Hidup di Kota Jakarta ternyata tidak semudah seperti yang banyak di bayangkan orang. Ada yang bilang, "di Jakarta itu apa saja bisa jadi uang". Trus, kenapa tak sedikit dari orang-orang di kampung sekarang yang tidak mampu membeli tiket untuk pulang saat Natalan tiba?hmmmm termasuk juga.hehehe




Tidak ada komentar :

Posting Komentar