Mr Ponsi

selamat datang,terimakasih sudah mampir di blog saya,Apapun yg terjadi dalm hidupku ini ,tak pernah ku ragukan kasihmu Tuhan # Ucapan syukur atas terkabulnya doa melalui novena tiga salam maria.

Sabtu, 27 Februari 2016

Pemahaman Perkawinan Menurut Gereja Katolik


Salah satu usaha menafsirkan
pernikahan Ka Tara & ka Tina
gereja St  Laurensius
AJARAN GEREJA KATOLIK TENTANG PERKAWINAN 
Ada begitu banyak pasangan calon mempelai yang sudah lama ber­pacaran, namun seringkali mereka belum mempergunakan kesempatan pacaran itu untuk dapat mempersiapkan diri dalam membangun keluarga katolik. Salah satu hal yang sangat penting namun seringkali terlupakan adalah kurangnya/ tidak pernah dilaksanakan pengolahan pengalaman hidup untuk melangsungkan suatu pernikahan sesuai ajaran Gereja Katolik. Oleh karena itu pentinglah, dalam membaca uraian di bawah ini, pembaca menggali pengalaman pribadi, khususnya ketika mempersiapkan perkawinannya. Rumusan ini bisa membantu un­tuk menilai diri sendiri, apakah memang sudah siap (minimal) secara mental dan rohani untuk melangsungkan perkawinan.
Perkawinan adalah:
PERSEKUTUAN HIDUP - ANTARA SEORANG PRIA DAN SEORANG WANITA - YANG TERJADI KARENA PERSETUJUAN PRIBADI - YANG TAK DAPAT DITA­RIK KEMBALI - DAN HARUS DIARAHKAN KEPADA SALING MENCINTAI SEBAGAI SUAMI ISTERI - DAN KEPADA PEMBANGUNAN KELUARGA - DAN OLEH KARENANYA MENUNTUT KESETIAAN YANG SEMPURNA - DAN TIDAK MUNGKIN DIBATALKAN LAGI OLEH SIAPAPUN, KECUALI OLEH KEMATIAN.
a. PERSEKUTUAN HIDUP
Apa yang pertama-tama kelihatan pada perkawinan Katolik? Jawabnya adalah: Hidup bersama. Namun, hidup bersama itu masih berane­karagam isinya. Dalam perkawinan Katolik, hidup bersama itu mewujudkan persekutuan. Jadi, hidup bersama yang bersekutu. Bersekutu mengisyaratkan adanya semacam kontrak, semacam ikatan tertentu dengan sekutunya. Bersekutu mengandaikan juga kesediaan pribadi untuk melaksanakan persekutuan itu, dan untuk menjaga persekutuan itu. Ada kesediaan pribadi untuk mengikatkan diri kepada sekutunya, dan ada kesediaan pribadi untuk memperkembangkan ikatannya itu supaya menjadi semakin erat.
Ikatan ini tidak mengurangi kebebasannya. Justru ikatan itu mengisi kebebasan orang yang bersangkutan. Pertama-tama karena para calon mempelai memilih sendiri untuk bersekutu, dan bebas un­tuk memilih mau bersekutu dengan siapa, memilih untuk terikat dengan menggunakan kebebasan sepenuhnya; tetapi juga karena kebebasan itu hanya dapat terlaksana dalam melaksanakan pilihannya untuk bersekutu ini. Dengan kata lain boleh dikatakan bahwa persekutuan itu membuat orang sungguh-sungguh bebas karena dapat memperkem­bangkan kreatifitas dalam memelihara dan mengembangkan persekutuan itu; bukan dengan menghadapkan diri pada pilihan-pilihan yang baru lagi. Persekutuan yang dibangun itu menjadi tugas kehidupan yang harus dihayatinya.

b. SEORANG PRIA DENGAN SEORANG WANITA
Penekanan pertama di sini adalah seorang dengan seorang: arti­nya orang seutuhnya dengan orang seutuhnya. Ini menggambarkan penerimaan terhadap satu pribadi seutuhnya. Yang diterima untuk bersekutu adalah pribadi, bukan kecantikan, kegantengan, kekayaan atau kepandaiannya saja. Ada beberapa catatan untuk penerimaan satu pribadi ini: Pertama, menerima pribadi itu berarti menerima juga seluruh latar belakang dan menerima seluruh masa depannya. Artinya, saya tidak dapat menerima pribadi itu hanya sebagai satu pribadi yang berdiri sendiri. Selalu, saya harus menerima juga orang tuanya, kakak dan adiknya, saudara-saudaranya, teman-teman­nya, bahkan juga bahwa dia pernah berpacaran atau bertunangan dengan si ini atau si itu. Lebih jauh lagi, saya juga harus meneri­ma segala sesuatu yang terjadi padanya di masa mendatang: syukur kalau ia menjadi semakin baik, tetapi juga kalau ia menjadi sema­kin buruk karena penyakit, karena ketuaan, karena halangan-halangan; saya masih tetap harus menerimanya. Yang ke dua, menerima pribadi berarti menerima dia apa adanya, dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Kalau dipikir secara matematis: yang berseku­tu itu satu dengan satu; bukan 3/4 + 1/2, atau 1 + 6/8; lebih-le­bih lagi, bukan satu dengan satu setengah/satu seperempat/satu tiga perempat/apalagi dengan dua, tiga, dan seterusnya.
Dengan ungkapan lain lagi: Saya seutuhnya, mau mencintai dia seutuhnya/apa adanya. Ini berarti, saya mau menerima dia seutuh­nya, apa adanya; tetapi juga sekaligus saya mau menyerahkan diri seutuhnya kepadanya saja. Yang lain sudah tidak mendapat tempat lagi di hati saya, di pikiran saya. Hanya dia saja. Bahkan, anak-anakpun tidak boleh melebihi dia di hadapan saya, dalam pelayanan saya.
Penekanan ke dua pada seorang pria dengan seorang wanita.Yang ini kiranya cukup jelas. Hanya yang sungguh-sungguh pria dan yang sungguh-sungguh wanita yang dapat melaksanakan perkawinan secara katolik.

c. PERSETUJUAN PRIBADI
Hidup bersekutu itu terjadi karena setuju secara pribadi. Yang harus setuju adalah yang akan menikah. Dan persetujuan itu dilakukan secara pribadi, tidak tergantung pada siapapun, bahkan juga pada pasangannya. Maka, rumusannya yang tepat adalah: “Saya setu­ju untuk melangsungkan pernikahan ini, tidak peduli orang lain setuju atau tidak, bahkan tidak peduli juga pasangan saya setuju atau tidak”.
“Lalu bagaimana kalau pasangan saya kurang atau bahkan tidak setuju?. Dia hanya pura-pura setuju”. Kalau demikian, bukankah pihak yang setuju dapat dirugikan? Ya, inilah resiko cinta sejati. Cinta sejati di sini berarti saya setuju untuk mengikatkan diri dengan pasangan, saya setuju untuk menyerahkan diri kepada pasangan, saya setuju untuk menjaminkan diri pada pasangan; juga kalau akhirnya persetujuan saya ini tidak ditanggapi dengan baik/sesuai dengan kehendak saya. Yang menjadi dasar pemahaman ini adalah karena setiap mempelai membawa cinta Kristus sendiri. Kristuspun tanpa syarat mengasihi kita, Kristus tanpa syarat menerima kita dan memberikan DiriNya bagi kita.

d. PERSETUJUAN PRIBADI YANG TAK DAPAT DITARIK KEMBALI
Persetujuan pribadi untuk bersekutu itu nilainya sama dengan sumpah/janji dan bersifat mengikat seumur hidup. Sebab persetujuan itu mengikutsertakan seluruh kehendak, pikiran, kemauan, pera­saan. Pokoknya seluruh kepribadian. Maka dinyatakan bahwa perse­tujuan itu tidak dapat ditarik kembali. Sebab, penarikan kembali pertama-tama berarti pengingkaran terhadap diri sendiri, penging­karan terhadap kebebasannya sendiri, pengingkaran terhadap cita-cita dan kehendaknya sendiri. Tetapi, kemudian, juga berarti bah­wa pribadinya sudah tidak menjadi utuh kembali.

e. DAN YANG DIARAHKAN
Sebenarnya, pengalaman untuk membuat dan memelihara dan memper kembangkan persetujuan pribadi untuk bersekutu itu sudah harus dipupuk sejak masa pacaran Maka, ada banyak yang merasa bahwa persetujuan semacam itu sudah tidak perlu dipertanyakan lagi. Pokok­nya sudah beres, begitu. Semua sudah siap. Namun, kenyataannya persetujuan yang terjadi pada masa pacaran belumlah memenuhi sya­rat perkawinan. Dan benarlah, persetujuan yang dibangun pada masa pacaran baiklah persetujuan sebagai pacar. Persetujuan yang dibangun pada masa tunangan, baiklah persetujuan sebagai tunangan. Baru, setelah menikah, persetujuan itu boleh menjadi persetujuan sebagai suami-isteri. Maka, Kita lihat, misalnya adanya pembatasan-pembatasan dalam berpacaran, menunjukkan bahwa persetujuan itu belum bisa dilaksanakan sepenuhnya. Secara lebih positif dapat dikatakan bahwa persetujuan semasa pacaran lebih diarahkan untuk dapat melaksanakan janji pada saat perkawinan. Supaya janji pada saat perkawinan sungguh berisi dan memberi jaminan bagi masa de­pan baik pribadi maupun pasangannya. Tiga kata ini juga dapat diartikan penegasan terhadap perkawi­nan sebagai awal dari kehidupan baru bagi kedua mempelai. Bagai­manapun oleh perubahan situasi manusia masih dapat berubah. Pene­gasan ini membantu para suami/isteri untuk melaksanakan isi persetujuan itu.

f. SALING MENCINTAI SEBAGAI SUAMI ISTERI
Pengalaman menunjukkan bahwa calon mempelai biasanya bingung dengan ungkapan ini. Mereka merasa sudah saling mencintai, kok masih ditanya soal ini. Masalahnya, sering tidak disadari bahwa cinta itu bermacam-macam. Ada cinta sebagai saudara, ada cinta sebagai sahabat, ada cinta karena belas kasihan, demikian pula ada cinta suami isteri. Tentu saja, yang namanya cinta sejati tidak pernah dapat berbeda-beda. Yesus menunjuk cinta sejati itu seba­gai orang yang mengorbankan nyawaNya bagi yang dicintaiNya. Dan Yesus memberi teladan dengan hidupNya sendiri yang rela sengsa­ra, bahkan sampai wafat untuk kita semua yang dicintaiNya. Na­mun, perwujudan cinta sejati itu ternyata bisa beranekaragam. Kekhasan dari cinta suami isteri adalah adanya keterikatan isti­mewa yang membuat mereka dapat menyerahkan diri seutuhnya bagi pasangannya. Dalam hal ini kiranya cinta suami isteri dapat diseja­jarkan dengan cinta yang diwujudkan dalam suatu kaul biara atau janji seorang imam. Bedanya, kalau kaul biara atau janji seorang imam tertuju kepada Tuhan di dalam umatNya; dalam perkawinan cinta itu tertuju kepada Tuhan di dalam pasangannya. Yang mau dituju adalah membangun suasana saling mencintai sebagai suami/isteri. Maka, tidak hanya membabi buta dengan cintanya sendiri. “Pokoknya saya sudah mencintai”. Ini tidak cukup. Perjuangan seorang suami/isteri adalah di samping memelihara dan memperkembangkan cintanya, juga mengusahakan supaya pasangannya da­pat ikut mengembangkan cintanya sebagai suami/isteri.

g. PEMBANGUNAN KELUARGA

Hidup dalam persekutuan sebagai suami-isteri mau tidak mau mewujudkan suatu keluarga. Harus siap untuk menerima kedatangan anak-anak, harus siap untuk tampil sebagai keluarga, baik di hadapan saudara-saudara, di hadapan orang tua maupun di hadapan masya­rakat pada umumnya. Maka, membangun hidup sebagai suami-isteri membawa juga kewajiban untuk mampu menghadapi siapapun sebagai satu kesatuan dengan pasangannya. Mampu bekerjasama menerima, meme­lihara dan mendewasakan anak, mampu bekerjasama menerima atau da­tang bertamu kepada keluarga-keluarga lain, mampu ikut serta mem­bangun Gereja. Semuanya dilaksanakan dalam suasana kekeluargaan.

h. KESETIAAN YANG SEMPURNA
Setia dalam hal apa? Empat hal yang sudah diuraikan di atas, yakni persekutuan hidup antara seorang pria dan seorang wanita, memelihara dan memperkembangkan persetujuan pribadi, membangun sa ling mencintai sebagai suami isteri, membangun hidup berkeluarga yang sehat. Tidak melaksanakan salah satunya berarti sudah tidak setia. Apalagi kalau kemudian mengalihkan perhatiannya kepada se­suatu yang lain: membangun persekutuan yang lain, membuat perse­tujuan pribadi yang lain, membangun hubungan saling mencintai sebagai suami isteri dengan orang lain, membangun suasana kekeluargaan dengan orang lain (juga saudara): Ini dosanya besar sekali
Satu pedoman untuk kesetiaan yang sempurna adalah Kristus sen­diri. Ia setia kepada tugas perutusanNya, Ia setia kepada Bapa­Nya, Ia setia kepada manusia, kendati manusia tidak setia kepadaNya.

i. TAK DAPAT DIPISAHKAN OLEH SIAPAPUN

Persekutuan perkawinan terjadi oleh dua pihak, yakni oleh sua­mi dan isteri. Maka, tidak ada instansi atau siapapun yang akan dapat memutuskan persetujuan pribadi itu. Bahkan suami isteri itu sendiripun tidak dapat memutuskannya, sebab persekutuan itu dibangun atas dasar kehendak Tuhan sendiri. Dan Tuhanlah yang merestuinya. Maka, pemutusan persekutuan perkawinan bisa dipandang sebagai pemotongan kehidupan pribadi suami/isteri. Ini bisa be­rarti pembunuhan, karena pribadi itu dihancurkan.

j. KECUALI OLEH KEMATIAN.
Pengecualian ini didengar tidak enak. Namun, nyatanya, misteri kematian tidak terhindarkan. Karena kematian yang wajar, persetu­juan pribadi itu menjadi batal, karena pribadi yang satu sudah tidak mampu lagi secara manusiawi melaksanakan persetujuannya.


Minggu, 21 Februari 2016

Cerita di Balik Sidang Skripsi


#Semangat Pegi
Foto sebelum sidang Skripsi
Nggak bisa digambarkan betapa leganya aku karena pada hari Kamis, 17 Februari2016, pukul 19.00 WIB, beberapa hari lalu, aku akhirnya bisa sidang skripsi juga. Yey!

Sidangnya berlangsung kurang lebih hanya satu jam. Tapi, untuk menuju satu  jam yang Mendebarkan itu, banyak banget kehebohan-kehebohan yang terlalu sayang kalo sekedar diingat dalam memori otak lantas terlupa. Mending ditulis di sini ye kan........................................

Untuk Mencapai sampai kesana ada banyak tantangan yang harus aku lewatkan,, mulai dari  menunggu kabar siapa dosen pembimbing saya? terus pemilihan judul skripsi,dan lain sebagainya..apalagi bebarengan dengan Ujian ahkir semester, dalam pikiranku bercampur aduk,,, antara persiapan uas atau  skripsi yang utama..? Ahkirnya aku fokus pada penyusunan skripsi, dan jelaslah nilai uasku begitu berantakan,,, entalah..
Aku pasrah dan nyoba mikir positif, “ya udah sih, yang penting sidang dulu Februari ini, nilai uas ya ikut her aja deh...hmmm jangan ditiru ya sobat kebiasaan buruk nih hehehe
Tiga hari sebelum sidang aku memang super sibuk,maklum udah lampu kuning menjelang hari H. Mulai dari ketemu dosen pembimbing untuk penanda tangan ,dan acc keseluruhan.Nasib beruntung masih ada di pihakku diantara teman-temanku slalu berbagi informasi satu denga yang lain(Very,Mai,bu idha,fajri,Redit,Imran,Fikri ).apalagi  teman satu bimbingan sama aku slalu kompak, <Erni,febi,dico,sabrina,martha,devi>.Yang untungnya lagi Dosen pembimbingKu Ibu Tuti Haryanti M.Kom. Slalu memberikan motivasi yang luar biasa,dan ngga bikin ribet mahasiswa Bimbingannya.  

Eh, saking sibuknya, sampai lupa makan malam dan sarapan pagi.cuma  sebotol frestea  yang masuk ke perut. Laparnya nggak kerasa dan nggak sempat pula buat makan.

Pas udah makan siang sekitar jam 12:00 wib, aku ngerasa kalo badan aku mulai lelah Berasa mau pusing , Terus Disuruh minum Multivitamin sama Bu bosco. setelah itu saya mempersiapkan diri untuk mandi dan  siap Kestasiun kereta Untuk berangkat mengikuti sidang  pukul 19:00 wib.
Aku harus ke kampus buat nyerahin berkas skripsi ke panitia sidang dan membubuhkan tanda tangan mengenai keaslian skripsi. Terus  malakukan pemotretan ,setelah itu beburu minuman. Untunglah, di sela-sela sakit, kepala dan otak masih mau diajakin belajar, nyiapin diri buat sidang, latihan presentasi, dll.

Cemasnya jangan ditanya..
Makin dekat ke waktu sidang, aku makin cemas. Rasanya, puyeng,deg-degan apalagi mendengar cerita sahabat yang sudah mengikuti sidang yang katanya di cecar berbagai macam pertanyaaan. pengen banget bisa  hari kamis itu cepet berlalu. Disana  saya bertemu dengan beberapa dosen pengajar saya,Pak Har, Dan Bu yana,. Beberapa saat saya ngobrol sama Bu Yana dan juga memberikan motivasi.belajar ya ponsi...spontan saya jawab ya Bu... padahal hatiku semakin deg-degkan,,, maklum tinggal beberapa menit lagi aku akan ikut mengikuti sidang.
So finally,
Aku nyoba nenangin diri dengan  sekali lagi meminum seteguk frestea rasa  apple.tapi malah tambah panik. Nyoba belajar tapi udah gagal konsen.
Jreng jeeeng .. detik-detik sidang pun dimulai ..Sebelum aku masuk pintu ruangan,,dalam hati aku berdoa : Dalam nama Yesus  dan bunda maria,segala yang terjadi pada sidang ini atas kehendakNya.
Aku masuk ruangan begitu  kecil dan ternyata saya udah di tungguin oleh dua dosen Penguji semakin mendebarkan jantungku.. dan sidang pun di mulai,,aku menyiapkan bahan presentasiku dan menjawab beberapa pertanyaan dari dosen penguji 1 dan penguji 2,, tapi ada juga sih yang ga bisa saya jawab hehehe maklum pikiran kadang buyar githu deh,,,, setelah sidang selesai serasa legah banget meninggal  beban yang aku pikul selama sepekan yang berlalu... 

Senin, 08 Februari 2016

Sepenggal cerita Anak Rantau





sahabat
Enam tahun yang lalu, saya berpamitan kepada ayah ,ibu ,dan keluarga besarku di kampung halamanku tepatnya  di  kampung pedak. Aku  ingin mengadu nasib di Jakarta. Sebagai seorang anak cowo yang paling tua dikelurgaku, saya ingin bertekad agar aku  ulet dan sabar untuk mencari nafkah buat keluarga,cita-citanya sih biar bisa memperoleh kehidupan yang lebih baik.,. Paling tidak saya bisa mengurangi beban  biaya hidup keluargaku,,apalagi keadaan ekonomi keluargaku saat itu sangat memprihatinkan,,Tekad  Mencari rupiah di kota tentu saja tidak segampang mengais rizki di desa.

Di kampungku banyak sekali orang yang merantau ke kota. Tak cukup satu dua orang saja, karena hampir tiap tahun, semakin bertambah jumlah orang yang meninggalkan kampung. Mereka yang terbilang lumayan sukses hidup di kota, biasanya mengajak anggota keluarganya yang lain. Jika mau ikut berkerja di kota, mereka diiming-imingi gaji yang besar.

Apakah semua orang yang merantau ke kota besar macam Jakarta semuanya sukses? Ternyata tidak. Banyak juga mereka yang justru hidup menderita. Bila mencari kerja ke kota sementara tidak memiliki bekal kemampuan yang cukup, seseorang hanya akan menjadi buruh bangunan atau tukang sapu jalanan. Hanya sedikit orang yang berhasil mendapatkan kerja yang layak meskipun ia tidak memiliki ketrampilan tertentu.

Ada seorang dari kampungku yang sukses di Jakarta, tetapi ada pula yang hidupnya pas-pasan.seperti keluarga penulis ini..hehehhe.Aku pernah mendengar cerita betapa menyedihkanya mereka yang hidup dengan cara seperti itu. Jangankan untuk membayar kontrakan rumah, untuk makan sehari-hari pun mereka tak sanggup.

Mendengar cerita-cerita memilukan seperti itu membuat hati ini iba. Hidup di Kota Jakarta ternyata tidak semudah seperti yang banyak di bayangkan orang. Ada yang bilang, "di Jakarta itu apa saja bisa jadi uang". Trus, kenapa tak sedikit dari orang-orang di kampung sekarang yang tidak mampu membeli tiket untuk pulang saat Natalan tiba?hmmmm termasuk juga.hehehe




Ungkapkan terima kasih anda kepada orang lain




Belum sepenuhnya membudaya. Ada orang yang begitu mudah mengucapkan terima kasih , namun ada juga yang cenderung cuek sekalipun banyak orang yang berjasa dalam membantu urusannya. Dikutip dari Times of  India, sebenarnya ucapan ini tidak bisa diremehkan keberadaannya. Jika berterima kasih dijadikan kebiasaan, maka hasilnya bisa memunculkan efek sebagai berikut:

  1. Wujud penghargaan kepada orang lain. Setiap orang memerlukan pengakuan dari orang lain. Dengan mengucapkan terima kasih akan membuat orang menjadi lebih nyaman dan merasakan apapun yang dilakukannya untuk Anda terasa berharga.
  2. Memotivasi orang untuk berbuat baik. Biasanya ucapan terima kasih ditujukan untuk suatu kebaikan. Dengan menerima ucapan ini, orang akan menjadi bersemangat untuk berbuat baik di kesempatan selanjutnya. Dia sangat bangga bisa membantu sesamanya.
  3. Menyenangkan hati. Ada kegembiraan tersendiri ketika seseorang mampu berbuat baik. Dia sangat bahagia ketika melihat orang lain ikut senang. Jika ada ucapan terima kasih yang diterimanya, hal tersebut akan lebih membahagiakannya.
  4. Salah satu solusi mengatasi masalah. Kadang masalah muncul karena seseorang tidak menghargai orang lain. Orang yang telah bekerja keras untuk Anda, akan sangat sensitif bila pada akhirnya dia merasa tidak diperhatikan. Ucapan terima kasih bisa mewakili wujud penghargaan pada orang yang berjasa untuk Anda.

Ungkapkan terima kasih anda kepada orang lain

Curahan Hatiku untuk Ayah dan Ibu

BSI Convention Center Kaliabang no8  Bekasi utara 



Sudah sekian lama,sejak tangan ayah dan ibu mendekap diriku yang mungil ini dalam pelukan hangat, merawatku dengan penuh kasih sayang, cinta,perhatian,dan bimbingan agar aku bisa jadi pribadi yang bisa dibanggakan.

Ayah dan ibu bilang:"kamu titipan Tuhan,kami harus menjaga diri kamu baik-baik" tapi,seiring waktu berjalan, semakin banyak kesalahan yang aku buat yang menyakiti ayah dan ibu.

Hanya lewat catatan kecil ini,ku ungkapkan semua yang ada di benak ku,rasa bersalah yang mendalam telah menyakiti ayah dan ibu berulang kali (yang hebatnya,ayah dan ibu tidak pernah bisa membenci anaknya walaupun telah aku sakiti hatinya berulang kali)

Terima kasih ayah,ayah sudah membanting tulang bekerja begitu giat demi menghidupi aku,maaf ayah sering kali aku tidak memperhatikan bagaimana letihnya diri ayah mencari sesuap nasi bagi keluarga ini.Begitu bodohnya aku tidak menanyakan keadaan diri ayah, walaupun kita ada di dalam satu rumah sederhana ini,begitu angkuhnya aku tidak memijat kaki mu,tanganmu ketika ayah letih setelah bekerja seharian demi aku.

Terima kasih ibu,ibu telah berjuang hidup dan mati demi melahirkan aku di dunia ini,maafkan aku ibu sering aku tidak membantumu yang bekerja mengurus rumah tangga ini, tanganMu yang tidak lelah bekerja mengatur isi keluarga ini sangat berarti, namun jarang aku tawarkan diriku hanya sekedar untuk memijat tanganmu yang selalu mendekap diriku saat aku masih bayi [begitu hinanya diriku sering membantah ucapan serta nasihat yang ibu beri padaku,yang seharusnya aku resapi baik2,yang seharusnya aku tahu, ibu sering menegurku karena ibu sayang padaku].

Terima kasih ayah,sejak aku lahir di dunia ini,ayah menggendongku dengan penuh rasa kasih sayang, menyuapi makan ketika aku lapar,menggantikan ibu mengurus rumah saat ibu terbaring di rumah  karena melahirkanku,maaf kan aku ayah,sering kali aku mengejek dirimu,membantah tiap ucapan bijak dari mu, yang seharusnya aku sadar,ayah adalah kepala di keluarga ini.

Terima kasih ibu,ibu tidak pernah mengeluh membimbingku, menjelaskan padaku yang mana yang baik dan yang salah, menjagaku ketika aku sakit,memberi aku kasih sayang tulus seorang ibu yang didambakan banyak orang.Sungguh,maafkanlah aku ibu,tidak jarang aku menolak membantu ibu ketika ibu meminta bantuanku.

Aku tidak memperhatikan betapa besarnya peran ibu di rumah, sedang aku hanya sedikit yang bisa aku lakukan.Betapa hinanya aku lebih senang menemani teman-temanku berbelanja menghabiskan uang sia-sia di pusat belanja,daripada menemani ibu di rumah,mengerjakan tugas rumah yang berat itu.

Sungguh banyak rasa terima kasih yang tak bisa aku ungkapkan lagi dalam kata-kata,begitu besar cinta ini bagi ayah dan ibu.Maafkan aku ayah,ibu aku telah bersalah telah menyakiti hati ayah dan ibu,menyayat perih dari tiap perkataan dan perbuatan yang aku perbuat,yang tak sengaja tanpa kusadari telah menyakiti hati ayah dan ibu.

Aku terus berusaha menjadi anak yang berbakti dan baik untuk ayah dan ibu,tidak cukup hanya membiayai ayah, ibu dan adik2 nantinya ketika aku besar nanti, untuk membayar dan menggantikan semua jerih payah ayah dan ibu agar aku bisa menjadi manusia yang berguna.

Dengan segenap hati, aku sangat mencintai dan menyayangi ayah dan ibu, terima kasih telah merawat diriku terima kasih telah memberikan kasih sayang yang begitu besar padaku.

Terima kasih telah menjadi orang tua yang sangat membanggakan, semoga, aku bisa menjadi pribadi yang ayah dan ibu banggakan,semoga aku bisa membuat ayah dan ibu tersenyum dengan keberhasilan ku telah menjadi seseorang yang ayah dan ibu impikan,amin.
 Dalam doaku semoga Tuhan yang maha kuasa slalu memberkati ayah dan Ibu dan keluarga besarku

Jumat, 05 Februari 2016

I Believe

Dear Lord,
Thank You for being so loving to me inspite of all my faults and mistakes. Thank You for saving my life not once but way too many times. Thank You for not giving up on me even when I myself quite.
Thank You for all Your goodness, mercy, love, compassion, and protection. I am nothing without You Lord. Amen !

Kamis, 04 Februari 2016

Doa Novena Tiga salam Maria

Bunda Maria, Perawan yang berkuasa, bagimu tidak ada sesuatu yang tak mungkin, karena kuasa yang dianugerahkan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa kepadamu. Dengan sangat aku mohon pertolonganmu dalam kesulitanku ini, janganlah hendaknya engkau meninggalkan aku, sebab aku yakin engkau pasti dapat menolong, meski dalam perkara yang sulit, yang sudah tidak ada harapannya, engkau tetap menjadi pengantara bagi Puteramu.
Baik keluhuran Tuhan, penghormatanku kepadamu maupun keselamatan jiwaku akan bertambah seandainya engkau sudi mengabulkan segala permohonanku ini. Karenanya, kalau permohonanku ini benar-benar sesuai dengan kehendak Puteramu, dengan sangat aku mohon, o Bunda, sudilah meneruskan segala permohonanku ini ke hadirat Puteramu, yang pasti tak akan menolakmu.
Pengharapanku yang besar ini, berdasarkan atas kuasa yang tak terbatas yang dianugerahkan oleh Allah Bapa kepadamu. Dan untuk menghormati besarnya kuasamu itu, aku berdoa bersama dengan St. Mechtildis yang kau beritahukan tentang kebaikan doa “Tiga Salam Maria”, yang sangat besar manfaatnya itu.
(Salam Maria……..3x)
Perawan Suci yang disebut Tahta Kebijaksanaan, karena Sabda Allah tinggal padamu, engkau dianugerahi pengetahuan Ilahi yang tak terhingga oleh Puteramu, sebagai makhluk yang paling sempurna untuk dapat menerimanya.
Engkau tahu betapa besar kesulitan yang kuhadapin ini, betapa besar pengharapanku akan pertolonganmu. Dengan penuh kepercayaan akan tingginya kebijaksanaanmu, aku menyerahkan diri seutuhnya kepadamu, supaya engkau dapat mengatur dengan segala kesanggupan dan kebaikan budi, demi keluhuran Tuhan dan keselamatan jiwaku. Sudilah kiranya Bunda dapat menolong dengan segala cara yang paling tepat untuk terkabulnya permohonanku ini.
O Maria, Bunda Kebijaksanaan Ilahi, sudilah kiranya Bunda berkenan mengabulkan permohonanku yang mendesak ini. Aku memohon berdasarkan atas kebijaksanaanmu yang tiada bandingnya, yang dikaruniakan oleh Puteramu melalui Sabda Ilahi kepadamu.
Bersama dengan St. Antonius dari Padua dan St. Leonardus dari Porto Mauritio, yang rajin mewartakan tentang devosi “Tiga Salam Maria” aku berdoa untuk menghormati kebijaksanaanmu yang tiada taranya itu
(Salam Maria……..3x)
O Bunda yang baik dan lembut hati, Bunda Kerahiman Sejati yang akhir-akhir ini disebut sebagai “Bunda yang penuh belas kasih”, aku datang padamu, memohon dengan sangat, sudilah kiranya Bunda memperlihatkan belas kasihmu kepadaku. Makin besar kepapaanku, makin besar pula belas kasihmu kepadaku.
Aku tahu, bahwa aku tidak pantas mendapat karunia itu. Sebab seringkali aku menyedihkan hatimu dengan menghina Puteramu yang kudus itu. Betapapun besarnya kesalahanku, namun aku sangat menyesal telah melukai Hati Kudus Yesus dan hatikudusmu.
Engkau memperkenalkan diri sebagai “Bunda para pendosa yang bertobat” kepada St. Brigita, maka ampunilah kiranya segala kurang rasa terima kasihku padamu. Ingatlah akan keluhuran Puteramu saja serta kerahiman dan kebaikan hatimu yang terpancar dengan mengabulkan permohonanku ini melalui perantaraan Puteramu.
O Bunda, Perawan yang penuh kebaikan serta lembut dan manis, belum pernah ada orang yang datang padamu dan memohon pertolongamu engkau biarkan begitu saja. Atas kerahiman dan kebaikanmu, aku berharap dengan sangat, agar aku dianugerahi Roh Kudus. Dan demi keluhuranmu, bersama St. Alfonsus Ligouri, rasul kerahimanmu serta pengajar devosi “Tiga Salam Maria”, aku berdoa untuk menghormati kerahimanmu dan kebaikanmu.
(Salam Maria……..3x)